PUNGGAWANEWS – Dalam kajian khusus yang disampaikan di bulan Rabiul Awal 1447 Hijriah, Ustadz Adi Hidayat menguraikan lima kriteria fundamental yang harus dimiliki setiap Muslim untuk menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang sejati. Kajian ini didasarkan pada Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 129 dan 151, yang mencatat doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta jawaban Allah atas doa tersebut.
Latar Belakang Historis
Ustadz Adi menjelaskan bahwa bulan Rabiul Awal memiliki makna khusus dalam sejarah Islam karena mencatat perjalanan lengkap kehidupan Rasulullah SAW. “Nabi lahir di bulan Rabiul Awal, hijrah tiba di Madinah di bulan Rabiul Awal, dan wafat pun di bulan Rabiul Awal,” ungkapnya.
Kajian ini mengambil inspirasi dari doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika membangun kembali Ka’bah setelah rusak terbawa banjir di zaman Nabi Nuh AS. Dalam doa mereka, kedua nabi tersebut memohon kepada Allah agar mengutus seorang rasul terbaik dengan empat keutamaan khusus.
Lima Kriteria Umat Nabi yang Sejati
1. Berinteraksi dengan Al-Quran (Yatlu Alaihim Ayatika)
Kriteria pertama adalah memiliki interaksi aktif dengan Al-Quran sebagai ayat-ayat Allah. Ustadz Adi menekankan bahwa Al-Quran bukan sekadar bacaan, melainkan kurikulum hidup yang lengkap.
“Al-Quran adalah warisan istimewa dari Nabi. Beliau bersabda bahwa siapa yang menjaga dua pusaka – kitabullah Al-Quran dan sunnahnya – tidak akan pernah susah dalam hidup,” jelasnya.
Interaksi dengan Al-Quran mencakup tilawah (membaca dengan pemahaman), bukan sekadar qiraah (membaca tanpa memahami). Setiap aktivitas kehidupan, mulai dari menjadi anak, orang tua, hingga berbisnis, memiliki pedoman dalam Al-Quran.
2. Menyucikan Hati (Wauzakkihim)
Kriteria kedua adalah memiliki hati yang bersih. Ustadz Adi menggunakan analogi teko untuk menjelaskan konsep ini: “Kalau di dalam teko ada kopi, keluarnya kopi. Kalau isinya air bening, keluarnya air bening. Begitu pula dengan hati.”
Ia mengutip penelitian neurolog Edward Armore yang menemukan 40.000 saraf di jantung yang berfungsi sebagai pusat mengingat, memberi perintah, dan merasakan. Ketika hati bersih, semua yang dialirkan ke seluruh tubuh menjadi baik, termasuk ucapan, pandangan, dan perilaku.
Untuk mencapai kesucian hati, diperlukan praktik ibadah seperti salat yang berfungsi mencegah perbuatan keji (fahsya) dan mungkar. “Salat dari takbir hingga salam melatih kita mengirim sinyal ke hati agar bersih,” paparnya.
3. Mempelajari Hikmah (Wal Hikmah)
Kriteria ketiga adalah memahami hikmah atau makna mendalam dari setiap ajaran Islam. Tidak cukup hanya melakukan ibadah secara ritual, tetapi harus memahami esensi dan tujuannya.
Sebagai contoh, dalam salat ada bacaan, gerakan, dan hikmah. “Mengapa tangan diangkat sejajar bahu? Mengapa diletakkan di dada? Mengapa kaki dilebarkan selebar bahu? Semua ada maknanya,” jelasnya.
4. Mengamalkan Kitab dan Sunnah (Waulimuhumul Kitab)
Kriteria keempat adalah mempelajari dan mengamalkan penjelasan Al-Quran yang telah dibukukan dalam hadis-hadis Nabi. Melalui hadis, umat dapat mempelajari seluruh aspek kehidupan Rasulullah SAW, mulai dari penampilan fisik hingga cara berinteraksi sebagai suami dan ayah.
“Sekarang sudah ada kemudahan dengan teknologi digital. Hadis-hadis sudah bisa diakses melalui handphone. Jika masih belum mau belajar, dengan cara apa lagi difasilitasi?” tantang Ustadz Adi.
5. Kreatif dan Inovatif (Wauimukum Ma Lam Takunu Taalamun)
Kriteria kelima adalah mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam kehidupan. “Ciri umat Nabi Muhammad adalah kreatif. Selalu mencari cara baru dalam belajar, berbisnis, atau aspek kehidupan lainnya,” ungkapnya.
Umat Nabi tidak boleh stagnan, tetapi harus selalu maju dengan dasar petunjuk yang telah diajarkan Rasulullah SAW.
Refleksi dan Evaluasi Diri
Ustadz Adi mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap lima kriteria tersebut. “Setiap kali datang bulan Rabiul Awal, kita harus menanyakan pada diri sendiri: sudah betul belum kita menjadi umat Nabi yang seutuhnya?”
Beliau menekankan bahwa memperingati Maulid Nabi bukan hanya sekadar mengingat kelahiran, tetapi juga menjadi momentum untuk mengukur sejauh mana pencapaian spiritual dan moral seseorang dalam meneladani Rasulullah SAW.
Hubungan dengan Kedekatan kepada Allah
Poin tertinggi dari semua kriteria adalah bagaimana setiap aktivitas kehidupan mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Puncaknya adalah semua kegiatan kita membuat diri lebih dekat dengan Allah. Kalau hanya capaian kesuksesan, yang belum beriman juga bisa. Pembedanya adalah kedudukan dan kekayaan itu membuat kita semakin dekat dengan Allah,” tegasnya.
Kajian ini ditutup dengan pesan bahwa menjadi umat Nabi yang sejati bukan hanya mengaku secara verbal, tetapi harus dibuktikan melalui lima kriteria yang telah dijelaskan. Dengan demikian, setiap Muslim dapat memastikan bahwa dirinya benar-benar mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat.
Wallahu a’lam bishawab.


Tinggalkan Balasan