PUNGGAWANEWS, Di zaman Rasulullah SAW, hiduplah seorang sahabat yang dikenal sangat taat beribadah. Ia bernama Al-Qamah. Semasa hidupnya, Al-Qamah dikenal sebagai pemuda yang rajin salat, gemar bersedekah, dan tekun berpuasa. Namun, ia memiliki satu kekurangan: ia lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya.

Ketika ajal menjemputnya, Rasulullah SAW mengutus Ammar, Suhaib, dan Bilal untuk mentalqin (membimbing) Al-Qamah mengucapkan syahadat. Namun, lidah Al-Qamah terasa kelu. Berulang kali mereka mencoba membimbingnya, tetapi ia tidak mampu mengucapkannya. Akhirnya, mereka kembali kepada Rasulullah SAW dan melaporkan kejadian tersebut.

Rasulullah bertanya, “Apakah dia masih memiliki orang tua?” Mereka menjawab, “Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua.” Rasulullah SAW meminta mereka memanggil ibu Al-Qamah. Setelah tiba, Rasulullah bertanya, “Apa yang terjadi dengan putramu, Al-Qamah?”

Sang ibu menjawab dengan jujur, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak yang salat, puasa, dan sedekah. Akan tetapi, ia lebih mengutamakan istrinya daripada saya. Ia selalu menuruti keinginan istrinya dan mengabaikan saya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Keridhaan ibumu adalah kunci surga baginya.” Beliau kemudian bertanya kepada sang ibu, “Apakah engkau ridha kepadanya?” Sang ibu menjawab, “Tidak, saya tidak ridha kepadanya.”

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar. “Untuk apa, wahai Rasulullah?” tanya Bilal. “Akan aku bakar Al-Qamah di hadapanmu,” jawab Rasulullah.

Melihat kesungguhan Rasulullah SAW, sang ibu terkejut dan bertanya, “Wahai Rasulullah, akankah engkau membakar putraku? Saya tidak tega melihatnya terbakar di hadapan saya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ibu Al-Qamah, sesungguhnya azab Allah lebih pedih dari api ini. Jika engkau tidak memaafkannya, ia akan dibakar di neraka. Sekarang, maafkanlah dia agar ia bisa mendapatkan keridhaan Allah.”

Akhirnya, sang ibu berkata, “Wahai Rasulullah, saya bersaksi kepada Allah dan kepada Rasulullah bahwa saya telah ridha kepada putraku.”

Setelah sang ibu memaafkan Al-Qamah, Rasulullah SAW kembali mengutus Ammar untuk melihat keadaan Al-Qamah. Sesampainya di sana, Ammar mendapati Al-Qamah sudah mampu mengucapkan syahadat dengan lancar. Setelah itu, Al-Qamah pun meninggal dunia.

Kisah Al-Qamah adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Ridha seorang ibu adalah ridha Allah. Bahkan, ibadah yang begitu banyak dan amal saleh yang tulus pun bisa menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan ridha orang tua. Kisah ini mengajarkan bahwa bakti kepada orang tua adalah salah satu amal yang paling mulia dan paling utama di sisi Allah.