“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,”

“Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya, sehingga kita dikumpulkan di pagi hari yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang menjadi teladan sempurna bagi seluruh umat manusia.”

“Pagi ini, kita akan merenungkan sebuah kisah agung yang mengajarkan inti dari keimanan seorang mukmin, yaitu kesabaran. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan kurikulum ketabahan hidup yang diabadikan dalam Al-Qur’an: Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam. Beliau adalah simbol keteguhan yang diuji dengan ujian paling berat yang pernah dialami manusia.”


I. Puncak Kemakmuran dan Awal Kehancuran

“Mari kita mulai dari latar belakang Nabi Ayyub. Beliau adalah hamba Allah yang saleh luar biasa. Allah mengaruniakan beliau kekayaan melimpah: tanah luas, ternak tak terhitung. Beliau hidup dalam kemakmuran, namun tidak pernah lupa bersyukur.”

“Akan tetapi, Allah SWT berkehendak menguji beliau dengan ujian yang belum pernah dialami manusia sebelumnya. Ujian itu datang bertubi-tubi, seperti badai yang menghantam:

  • Pertama, harta bendanya lenyap, satu per satu kekayaannya hilang.
  • Kedua, beliau diuji dengan kehilangan yang paling menyakitkan: anak-anaknya wafat.
  • Ketiga, tubuhnya diserang penyakit parah, sakit yang bertahun-tahun merenggut segala fungsi tubuh, hingga hanya hati dan lisan beliau yang masih berfungsi. Hati untuk tetap beriman, dan lisan untuk berzikir.”

II. Keteguhan di Tengah Penderitaan dan Kesetiaan Istri

“Saudaraku, di sinilah letak puncak keteladanan beliau. Ketika semua hilang, tubuhnya hancur, dan penderitaan menyiksa, apa yang beliau lakukan? Beliau tetap berzikir: Subhanallah, Alhamdulillah siang dan malam. Tanpa keluh, tanpa marah. Beliau tidak pernah mempertanyakan takdir Allah.”

“Ujian tak berhenti di situ. Ujian sosial pun datang. Orang-orang menjauhinya, takut tertular penyakit. Bahkan keluarganya pun meninggalkannya. Beliau diasingkan keluar kota, tinggal di tempat pembuangan sampah. Sungguh, ujian yang menimpa lahir dan batin.”

“Namun, di tengah pengasingan itu, bersinar teranglah teladan kesetiaan agung dari sang istri. Hanya ia yang setia menemani. Setiap hari, sang istri bekerja keras untuk membeli makanan bagi suaminya.”

“Sampai pada puncaknya, ujian itu menimpa sang istri. Saat orang tahu ia istri Ayyub, tak ada yang mau mempekerjakannya. Dalam keputusasaan, ia melakukan pengorbanan yang mengiris hati: ia menjual kepangan rambutnya demi sepotong roti untuk suaminya.”

“Ketika Nabi Ayyub melihat makanan itu dan bertanya lembut, ia memaksa sang istri menceritakan kebenaran. Tatkala sang istri menunduk, membuka kerudungnya, dan menceritakan bahwa ia telah menjual kehormatan diri (rambutnya) demi sepotong roti, Nabi Ayyub merasa keimanannya diuji. Ia bersumpah: ‘Demi Allah, jika aku sembuh, aku akan mencambukmu 100 kali.’ Sumpah ini lahir dari rasa cemburu beliau terhadap kehormatan, bukan dari kemarahan terhadap pengorbanan sang istri.”


III. Sumpah, Kesembuhan, dan Kasih Sayang Allah

“Tahun demi tahun berlalu dengan kesabaran luar biasa. Dan akhirnya, Rahmat Allah datang. Allah SWT mengangkat seluruh penderitaannya. Tubuhnya sembuh, wajahnya bercahaya, dan sebagai ganti atas ketabahan beliau, kehidupannya dikembalikan dua kali lipat dari sebelumnya! Inilah janji Allah bagi orang yang bersabar.”

“Namun, Nabi Ayyub teringat sumpahnya. Ia harus mencambuk istrinya 100 kali. Ia tak sanggup melukai wanita yang telah menemaninya dengan penuh kasih sayang melalui masa terberat itu.”

“Di sinilah keindahan syariat Islam diwujudkan. Allah SWT memberikan solusi yang penuh rahmat. Allah berfirman: ‘Ambillah seikat lidi berisi 100 batang, lalu pukullah dia sekali saja.’

“Maka, Nabi Ayyub pun menepati sumpahnya dengan lembut, tanpa menyakiti sedikit pun. Begitulah kesabaran yang diiringi kebijaksanaan dan kasih sayang Allah SWT.”


IV. Penutup dan Kesimpulan

“Kisah Nabi Ayyub mengajarkan kita pelajaran abadi tentang iman dan hidup:

  1. Iman di Atas Segalanya: Ketika seluruh dunia meninggalkannya, Nabi Ayyub hanya menyisakan hati dan lisan untuk berzikir. Ini bukti bahwa keimanan adalah modal utama kita, yang tidak bisa diambil oleh musibah apapun.
  2. Kesabaran Adalah Kekuatan: Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menahan diri dari keluh kesah, kemarahan, dan keputusasaan, sambil terus berbaik sangka kepada Allah. Beliau bersabar bertahun-tahun, dan Allah menggantinya dua kali lipat.
  3. Kesetiaan Pasangan: Peran istri Nabi Ayyub adalah teladan kesetiaan yang luar biasa. Ingatlah, dukungan pasangan adalah kunci utama dalam melewati ujian hidup yang paling berat.

“Marilah kita jadikan Nabi Ayyub dan istrinya sebagai teladan abadi. Semoga Allah menganugerahi kita kesabaran dalam setiap cobaan dan kesetiaan dalam menjalankan ibadah dan berumah tangga. Yakinlah pada firman-Nya: Innallaha ma’asshobirin – Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

“Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”