Kisah ini mengajarkan kita tentang solidaritas, kerendahan hati, dan rasa syukur di tengah cobaan lapar, serta nilai persaudaraan sejati di antara Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab.
Pertemuan di Tengah Derita Lapar
Suatu pagi, sebuah pemandangan yang menyentuh terjadi. Abu Bakar keluar rumah menuju masjid karena rasa lapar yang tak tertahankan. Di tengah jalan, ia bertemu Umar yang juga merasakan hal yang sama.
Umar bertanya: “Wahai Abu Bakar, kenapa kau keluar rumah di saat seperti ini?”
Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, aku juga merasa lapar.”
Tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ menghampiri mereka dan mengonfirmasi perasaan mereka, “Demi zat yang jiwaku berada di tangannya, aku juga merasa lapar seperti kalian.” Pertemuan tiga insan mulia ini dipicu oleh kebutuhan fisik yang sama: rasa lapar.
Menuju Rumah Kemurahan Hati
Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengajak keduanya mengikuti beliau. Mereka bertiga berjalan menuju rumah Abu Ayyub al-Anshari, seorang sahabat yang dikenal sering memberikan jamuan makan untuk Rasulullah.
Ummu Ayyub menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Saat Rasulullah ﷺ tiba, Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma. Mendengar suara beliau, ia segera meninggalkan pekerjaannya.
Abu Ayyub menyambut: “Marhaban wahai Rasulullah dan yang bersamanya. Ya Rasul, engkau datang bukan pada waktu yang biasanya.”
Meskipun kedatangan mereka di luar jamuan biasa, Abu Ayyub segera bertindak. Ia memotong satu tangkai kurma yang masih muda dan yang sudah matang sebagai suguhan awal.
Jamuan Penuh Kasih dan Kehati-hatian
Abu Ayyub tidak berhenti di situ. Beliau berniat menyembelih seekor kambing. Rasulullah ﷺ menasihati dengan lembut:
“Kalau kau ingin menyembelih kambing, janganlah yang banyak air susunya.” (Menunjukkan sifat Rasulullah yang tidak ingin memberatkan tuan rumah).
Daging disajikan bersama roti yang diolesi mentega (sebagian direbus, sebagian dibakar). Namun, sebelum beliau dan kedua sahabatnya mulai makan, Rasulullah ﷺ menunjukkan puncak empati dan kepedulian sosialnya:
- Beliau mengambil sepotong daging di atas roti.
- Beliau berpesan kepada Abu Ayyub: “Kirimkanlah makanan ini kepada Fatimah. Ia belum makan sejak beberapa hari.”
Setelah itu, barulah beliau, Abu Bakar, dan Umar makan bersama hingga kenyang.
Pelajaran Agung Tentang Syukur
Setelah selesai makan, kenikmatan yang dirasakan Rasulullah ﷺ begitu mendalam hingga mata beliau berkaca-kaca.
“Roti, daging, dan kurma. Demi zat yang jiwaku berada di tangannya, ini adalah nikmat yang kelak akan ditanyakan pada hari kiamat.”
Beliau mengajarkan etika syukur yang sempurna:
- Saat hendak makan: Ucapkan Bismillah.
- Setelah selesai makan: Ucapkan Segala puji bagi Allah yang telah mengenyangkan dan memberi kami nikmat.
Sebagai bentuk terima kasih atas keramahtamahan tersebut, keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memberikan seorang budak perempuan kepada Abu Ayyub. Setelah berdiskusi dengan istrinya, Abu Ayyub memerdekakan budak tersebut, sebuah kemurahan hati yang dibalas dengan kemurahan hati yang lebih besar dari Rasulullah ﷺ.
🌟 Penutup
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kenikmatan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada rasa syukur atas apa yang telah Allah anugerahkan, sekecil apapun itu. Rasa lapar yang dialami bersama justru menguatkan ukhuwah Islamiyah mereka.
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk senantiasa bersyukur dan peduli terhadap sesama yang sedang dalam kekurangan.


Tinggalkan Balasan