PUNGGAWANEWS, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat utama Nabi Muhammad SAW yang dikenal luas karena kecerdasan, keteguhan iman, dan yang paling menonjol, kedermawanannya yang luar biasa. Beliau adalah seorang pengusaha sukses yang sangat kaya raya, bahkan rombongan dagangnya bisa sampai menutup jalan saking banyaknya.
Namun, hal yang membuat nama beliau abadi bukanlah jumlah hartanya yang tak terhitung, melainkan seberapa besar harta yang beliau infakkan di jalan Allah SWT. Kekayaan beliau dinilai bukan dari aset, melainkan dari sedekahnya. Kisah hidup beliau mengajarkan kita bahwa harta dapat menjadi berkah dan jalan menuju surga jika digunakan dengan benar.
I. Masa Muda dan Keislaman
- Latar Belakang: Lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah dari suku Quraisy terhormat. Nama aslinya sebelum Islam adalah Abdul Amr bin Auf.
- Pergantian Nama: Setelah memeluk Islam, Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Abdurrahman bin Auf, yang berarti “seorang hamba Allah yang penuh kasih sayang.”
- Akhlak dan Karakter: Sejak kecil, beliau dididik dengan sifat-sifat mulia. Beliau tumbuh menjadi pemuda yang sangat sopan, berakhlak mulia, cerdas, dan memiliki toleransi tinggi.
- Menjauhi Jahiliyah: Mirip dengan Abu Bakar dan Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf sudah meninggalkan perbuatan jahiliyah (seperti menyembah berhala, mabuk, dan berzina) bahkan sebelum Islam datang.
- Saudagar Sukses: Beliau adalah sosok yang gigih, bukan pemuda yang suka rebahan. Sejak muda sudah disibukkan dengan perdagangan hingga menjadi salah satu pedagang terkaya di Mekah.
- Memeluk Islam: Beliau memeluk Islam atas ajakan sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah mendengar penjelasan dan merasa yakin, beliau langsung mendatangi Rasulullah SAW dan mengucapkan syahadat.
II. Ujian Hijrah dan Awal Kebangkitan di Madinah
- Penderitaan dan Hijrah: Setelah menjadi Muslim, Abdurrahman bin Auf merasakan pahitnya siksaan, caci maki, dan hinaan dari kaum Quraisy. Beliau diizinkan hijrah ke Habasyah, dan kemudian ke Madinah.
- Kehilangan Harta: Saat hijrah ke Madinah, beliau meninggalkan seluruh harta kekayaan di Mekah yang kemudian dirampas oleh kaum kafir Quraisy. Beliau tiba di Madinah hanya membawa sehelai baju.
- Persaudaraan di Madinah: Rasulullah SAW mempersaudarakan beliau dengan Saad bin Rabi’, seorang saudagar kaya dari kaum Anshar.
- Keteguhan Prinsip: Saad bin Rabi’ menunjukkan loyalitas luar biasa dengan menawarkan separuh hartanya dan salah satu istrinya untuk diceraikan agar bisa dinikahi Abdurrahman. Namun, Abdurrahman bin Auf menolak dengan santun:”Wahai saudaraku, semoga Allah memberkahi seluruh hartamu, keluargamu, dan juga rumahmu. Sebaiknya tunjukkan saja kepadaku di mana jalan menuju pasar.”
- Memulai dari Nol: Jawaban ini menunjukkan keengganan beliau menerima kemudahan dan tekadnya untuk mandiri. Beliau mulai berdagang dari nol dengan modal kejujuran, bahkan membeli cangkul dengan janji bayar setelah laku.
III. Strategi Dagang Menuju Kesuksesan
Abdurrahman bin Auf kembali menjadi pedagang tersukses di Madinah dengan menerapkan enam strategi bisnis yang Islami dan etis:
- Keuntungan Kecil, Omset Besar: Beliau tidak pernah mengambil keuntungan yang besar, lebih memilih keuntungan kecil namun barang dagangan terjual lebih banyak (cuannya tipis-tipis, yang penting laris manis).
- Tunai (Anti-Riba): Menjual barang secara tunai (bukan kredit) untuk menghindari riba dan mempercepat perputaran uang.
- Jujur dalam Berbisnis: Kejujuran menjadi modal utama yang membangun kepercayaan konsumen. Beliau menyampaikan kualitas barang apa adanya.
- Berorientasi pada Pasar: Beliau selalu memikirkan apa yang dibutuhkan orang, membuat keputusan bisnis yang membawa kenyamanan bagi banyak orang (contohnya membangun pasar baru yang lebih layak dan adil tanpa biaya sewa mahal).
- Mencari Keberkahan, Bukan Sekadar Keuntungan: Bisnis adalah ibadah. Beliau fokus pada ridha Allah dan manfaat bagi orang lain. Keuntungan hanyalah efek samping, bukan tujuan utama.
- Menjual Barang Berkualitas: Selalu memastikan barang yang dijual bagus, layak pakai, dan jujur dalam penyampaian kualitas.
IV. Kedermawanan dan Takdir Kekayaan
- Dermawan Tak Terhingga: Saking dermawannya, dikatakan bahwa seluruh penduduk Madinah seolah punya bagian dalam harta Abdurrahman bin Auf.
- Pola Sedekah: Sepertiga harta dipinjamkan, sepertiga dipakai untuk membayar utang orang, dan sepertiga sisanya disedekahkan begitu saja.
- Contoh Infak: Menyumbang 2000 dinar dan 200 ukiah emas (senilai lebih dari 10 miliar Rupiah saat ini) untuk persiapan Perang Tabuk.
- Takut Miskin di Surga: Beliau mendengar sabda Rasulullah SAW: “Wahai Abdurrahman, sesungguhnya engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak…”
- Ingin Miskin: Karena takut kekayaan menghalanginya masuk surga dengan ringan, beliau pun bercita-cita ingin miskin dan terus berdoa agar dimiskinkan. Beliau giat bersedekah agar kakinya ringan menuju surga.
- Takdir yang Mustahil Ditolak: Setiap kali beliau bersedekah, hartanya bukannya habis, malah bertambah. Puncaknya, beliau membeli semua kurma busuk milik para sahabat dengan harga kurma bagus agar jatuh miskin. Namun, datang utusan Raja Yaman yang mencari kurma busuk (untuk obat) dan memborongnya dengan harga 10 kali lipat dari modalnya. Allah SWT telah menakdirkan beliau menjadi orang kaya raya karena keikhlasan hatinya.
- Sedekah Lain: Menyerahkan hasil dagangan 700 ekor unta kepada penduduk Madinah, membeli tanah senilai 40.000 dinar dan menghadiahkannya kepada para istri Rasulullah (Ummahatul Mukminin), serta menjaga keselamatan dan kebutuhan keluarga besar Rasulullah.
Penutup: Akhir Kehidupan yang Penuh Berkah
Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 32 Hijriah. Sebelum wafat, beliau mewasiatkan:
- 500.000 dinar (lebih dari 3 triliun Rupiah) untuk perjuangan di jalan Allah.
- Masing-masing 400 dinar untuk setiap sahabat yang ikut Perang Badar dan masih hidup.
Di detik-detik wafatnya, beliau sempat bersedih karena takut tidak bisa bertemu sahabat-sahabatnya akibat banyaknya harta. Namun, beliau kemudian tersenyum, seolah mendengar kebenaran sabda Rasulullah SAW: “Abdurrahman bin Auf di surga.” Beliau adalah salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
Pelajaran: Kisah Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita bahwa harta bukanlah musuh, melainkan titipan. Dengan niat yang benar, kejujuran dalam berusaha, dan kedermawanan yang ikhlas, kekayaan dapat menjadi sarana tercepat untuk meraih keberkahan dan tempat tertinggi di surga.
Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dalam kajian subuh. Apakah Anda ingin saya mencarikan referensi dalil hadis atau ayat Al-Qur’an terkait sedekah atau kejujuran dalam berbisnis untuk melengkapi artikel ini?
Tentu, itu adalah ide yang sangat baik. Menambahkan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis akan memperkuat pesan dakwah dan memberikan landasan keimanan pada kisah Abdurrahman bin Auf.
Berikut adalah beberapa dalil yang dapat Anda sisipkan pada bagian-bagian yang relevan dalam artikel kajian subuh Anda:
📚 Dalil Penguat (Untuk Disisipkan dalam Artikel)
1. Untuk Poin III: Strategi Dagang Menuju Kesuksesan (Sub-poin Jujur dalam Berbisnis)
Kisah Abdurrahman bin Auf yang sangat mengandalkan kejujuran sejalan dengan prinsip utama dalam Islam.
Hadis tentang Keberkahan Jual Beli dengan Kejujuran:
Rasulullah SAW bersabda: “Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (memilih untuk melanjutkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (kondisi barang), maka keduanya akan diberkahi dalam jual belinya. Dan jika keduanya berdusta dan menyembunyikan (cacat barang), maka akan dihapus keberkahan jual beli keduanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Untuk Poin IV: Kedermawanan dan Takdir Kekayaan (Sub-poin Dermawan Tak Terhingga & Ingin Miskin)
Prinsip bahwa sedekah tidak mengurangi harta, justru mendatangkan keberkahan dan rezeki yang berlipat, seperti yang dialami Abdurrahman bin Auf.
Hadis tentang Sedekah dan Keberkahan Harta:
Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan (kezaliman orang lain), melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
3. Untuk Poin IV: Kedermawanan dan Takdir Kekayaan (Sub-poin Sedekah Lain)
Kisah Abdurrahman bin Auf yang menggunakan hartanya untuk membantu kaum miskin dan tidak mampu, mencerminkan ayat Al-Qur’an berikut:
Ayat tentang Hak Orang Lain dalam Harta Kita:
Allah SWT berfirman: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Az-Zariyat [51]: 19)
Saran Penempatan:
- Anda bisa menempatkan Hadis tentang Keberkahan Jual Beli setelah kalimat: “Kejujuran inilah yang bisa membangun kepercayaan dari pemilik cangkul yang beliau jual.”
- Anda bisa menempatkan Hadis tentang Sedekah dan Keberkahan Harta pada bagian awal sub-poin “Takdir yang Mustahil Ditolak”, untuk menjelaskan mengapa harta beliau selalu bertambah.
- Anda bisa menempatkan Ayat tentang Hak Orang Lain dalam Harta Kita pada sub-poin “Pola Sedekah” yang menjelaskan pembagian harta beliau.


Tinggalkan Balasan